//
you're reading...
Uncategorized

Ditolak Cuci Darah, Pasien Meninggal Dunia

Purnanto, saat mengadu ke DPRD Kab Madiun beberapa waku lalu didampingi aktivis LSM Mantra.

* Dinkes Harus Tanggungjawab

MiTRa-Madiun, Penghentian layanan kesehatan bagi pasien gagal ginjal, akibat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun belum membayar tunggakan program Jamkesda, akhirnya memakan korban. Seorang pasien cuci darah, Purnanto (50) warga Desa Mojorayung, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, meninggal dunia, Sabtu (11/8) sekitar pukul 19.00 Wib di rumahnya.

Korban meninggal, setelah ditolak cuci darah dengan menggunakan SKTM. Tubuh korban langsung drop. Kematian korban itu, tak lama setelah korban bersama isteri mengadu ke DPRD Kabupaten Madiun bersama puluhan pasien cuci darah lainnya, Jumat (3/8) lalu.

“Kami ditolak nggak boleh berobat lagi dengan menggunakan SKTM mulai akhir Juni 2012. Padahal, mestinya tiap minggu sekali kami harus berobat,” kata keluarga korban.

Kematian korban, tampaknya menyulut kemarahan Ketua LSM Mantra Subari, yang selama ini mendampingi perjuangan pasien cuci darah mendapat pengobatan gratis. Dia mengecam sikap Dinas Kesehatan yang tidak memberikan kelonggaran bagi warga miskin pasien cuci darah berobat gratis di rumah sakit.

“Kami sangat kecewa, karena banyak warga miskin sampai sekarang tidak bisa cuci darah. Padahal Dinkes sudah berkoar-koar, kalau ada warga miskin berobat katanya gratis. Tapi nyatanya, sekarang malah membawa korban,” kata aktivis gembur ini.

Menurut Subari, korban sudah tidak melakukan cuci darah sebanyak tiga kali. “Hingga akhirnya meninggal ini. Kasihan sekali. Dia masih punya anak yang masih sekolah,” ucapnya.

Sebab itu Subari mendesak, Dinas Kesehatan Kab Madiun harus bertanggungjawab dan membuka kembali pelayanan Jamkesda / atau Jamkeskama. Karena akibat penghentian berobat gratis penderita gagal ginjal mengancam warga pasien miskin di Kabupaten Madiun.

“Untuk saat ini saja ada 21 pasien yang kondisinya lemah dan terancam meninggal dunia. Dan sampai sekarang belum bisa berobat. Karena itu kami minta mereka segera ditangani,” tegas mantan anggota DPRD ini.

”Jika kondisinya dibiarkan terus tersiksa, pasien gagal ginjal yang kini terancam nyawanya itu akan nekat mendatangi kantor Dinkes Kab Madiun dengan membawa tali untuk gantung diri,” ujarnya.

Sesuai data diperoleh, jumlah pasien penderita gagal ginjal yang kini kondisinya mengkhawatirkan adalah : Misinem, warga Rt 7 Desa Pagotan, Geger. Sumiati warga Rt 6 Rw 2 Desa Mojorayung, Wungu. Hadi Suparto, warga Desa Nglanduk, Wungu. Surotro warga Desa Mojopurno Wungu. Ismiyasih warga Munggut, Wungu. Sujoko warga Desa Sidorejo, Wungu. Hadi Sujono Desa Klumpit, Sawahan. Parlina Desa Kincang Wetan, Jiwan. Nonik warga Desa / Kec Wonoasri. Sutiyono Desa Banjarsari, Madiun. Bambang Wahono warga Desa banjarsari Madiun, Joko Santoso warga Desa Durenan, Gemarang dan Samsul Hadi Mejayan.

Sekedar mengingatkan, pasca dihentikannya program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) bagi pasien penderita gagal ginjal sejak 28 Juni 2012, puluhan pasien cuci darah akibat gagal ginjal asal Desa Mojorayung, Kecamatan Wungu demo. Mereka, menuntut DPRD agar mereka dapat kembali berobat gratis di rumah sakit.

Namun pihak eksekutif diwakili Kepala Dinas Kesehatan Aris Nugroho terkesan tidak peduli dengan warga miskin tersebut. Dia justru melempar kesalahan. Aparat ditingkat bawah dituding pemicu membengkaknya SKTM yang berdampak pada tunggakan hutang mencapai Rp. 2,5 miliar. (re)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: