//
you're reading...
Uncategorized

Tebu Lokal Ditolak PG Pagotan, APTR Protes

MiTRa-Madun, Sejumlah pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Pabrik Gula (PG) Pagotan Kabupaten Madiun, Senin (9/7/12) unjuk rasa di PG setempat. Mereka memprotes kebijakan manajemen PG yang menolak tebu rakyat lokal.

Menurut Sudiro, Sekretaris APTR PG Pagotan Kab Madiun, dalam sehari, jumlah tebu petani binaan yang ditolak karena dianggap tidak memenuhi syarat tebangan dan rendemen per harinya mencapai 50 hingga 100 lori atau sekitar 500 ton. Tahun sebelumnya, tebu petani binaan juga ada yang ditolak karena tidak memenuhi standar kualitas.

“Tebu dari petani lokal (binaan) banyak yang ditolak, sementara tebu dari luar (bukan petani binaan) diterima semuanya meski kualitasnya jelek,” kata Sekretaris APTRI PG Pagottan Sudiro.

APTRI menuduh ada permainan antara manajemen PG Pagottan dengan pengepul tebu dari wilayah yang bukan binaan. “Rendemen tebu lokal hanya dinilai kurang lebih 7 persen, sedangkan tebu dari luar lebih kurang 8 persen,” kata Sudiro.

Hasil lelang tahun ini, PG Pagotan dibawah PT Perkebunan Nusantara XI menghargai harga per kuintal tebu sebesar Rp51.000 dengan rendemen 7,3 persen dan harga gula Rp10.300 per kilogram.

APTRI juga menilai pemberian subsidi biaya transportasi tebu dari petani bukan binaan yang jaraknya lebih jauh. Tebu dari luar mendapat subsidi biaya transportasi sedangkan tebu petani binaan tidak mendapat subsidi. “Kami akan laporkan kebijakan manajemen PG ke kementerian terkait,” ia menegaskan.

Tebu petani binaan PG setempat berasal dari sejumlah kabupaten di Karesidenan Madiun seperti Kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, dan Ponorogo. Sedangkan tebu dari luar yang bukan binaan PG Pagottan itu diantaranya berasal dari sejumlah daerah di luar Karesidenan Madiun dan dari Jawa Tengah seperti Kabupaten Tulungagung, Kediri, Mojokerto, Sragen, dan Blora.

“Kerugiannya tinggal dikalikan saja selama musim giling ada berapa tebu yang rendemennya dinilai rendah,” Sudiro menjelaskan. Selama musim giling tahun ini menurutnya, PG Pagottan akan menyerap tebu petani binaan sebesar 2.200-2.400 ton. Hingga kini hanya sekitar seperempat tebu petani binaan yang terserap.

Administratur PG Pagottan Eko Siwi belum bisa dikonfirmasi atas tuduhan APTRI setempat. Saat dihubungi wartawan melalui telepon selulernya, Eko juga tidak merespon. Salah satu sinder kebun wilayah (SKW) yang bertugas di PG Pagottan, Imam Lahuri, membantah jika ada perlakuan tidak adil pada tebu petani baik petani binaan maupun luar binaan.

“Semua dilihat kualitasnya, kalau memang tidak memenuhi ya ditolak,” katanya. Selain nilai rendemen, syarat lainnya adalah tebangan tebu yang bersih. Seringkali tebangan tebu dari wilayah sekitar sini kurang bersih,” ujar Imam. (re)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: