//
you're reading...
Uncategorized

Petani Tembakau Jadi ‘Sapi Perahan’ Oknum Irigasi

* Eksekutif, Legislatif dan APTI Lepas Tangan?

MiTRa-Madiun, Kalangan petani tembakau di Desa Ngale, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun diduga jadi ajang ‘sapi perahan’ (pungutan,red) oknum petugas saluran irigasi waduk Notopuro Pilangkenceng. Akibatnya, sebagian petani yang tidak mampu bayar menjerit dan kesulitan mendapatkan air.

Informasi dilapangan menyebutkan, untuk mendapatkan air guna mengairi areal pertanian, sebagian petani dipungut biaya iuran pelayanan irigasi yang besarnya sekitar Rp. 50 – 70 ribu rupiah. Jika tidak bayar, maka saluran irigasi waduk tidak dioperasionalkan.

“Mintanya antara Rp. 50 hingga 70 ribu. Baru jatah air disalurkan. Anehnya, begitu sudah dikasih uang dia tidak mau membagi air, justru malah ditinggal mancing. Sehingga, air tidak sampai tempat tujuan dan mengalir tanpa juntrung. Perlakuan ini yang kami keluhkan,” kata Wiji seorang petani diamini petani lainnya.

Akibat kondisi itu, jelasnya, sebagian petani terpaksa harus susah payah membuat sumur pantek di sekitar waduk. Sebab, memasuki awal tanam tembakau musim ini, petani sangat membutuhkan air. ”Saluran irigasi waduk Notopuro sejak dua bulan berjalan ini sudah tidak beroperasi lagi (macet,red),” ujarnya.

Masalah lain dikeluhkan petani tembakau, yaitu tidak realisasinya bantuan pupuk dari Pemerintah Kabupaten yang bersumber dari dana bagi hasil cukai tembakau (DBHCT). Padahal, tanaman tembakau saat ini berumur satu bulan, sangat membutuhkan air dan pupuk.

“Sudah sulit air, pupuk juga belum turun. Mestinya awal tanam ini pupuk sudah ada. Tapi, sampai sekarang juga belum ada kabar, terus bagaimana nanti hasilnya tanaman,” timpal kata Kadiran petani tembakau lainnya.

Ironisnya, ekskeutif, legislatif maupun Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kab Madiun hingga kini terkesan ‘lepas tangan’. Akibatnya, petani i harus kerja keras sendiri untuk menghindari kerugian. Sebagian besar petani kini terpaksa harus cari utangan guna menutup kebutuhan tanaman.

“Pemerintah mestinya segera turun tangan membantu kesulitan petani. Karena bayang-bayang bangkrut diawal tanam sudah menghantui perasaan kami,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan , pejabat Pemkab Madiun yang kompeten dengan masalah ini maupun pihak pengurus Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kab Madiun belum berhasil dikonfirmasi. (re)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: