//
you're reading...
Uncategorized

Cari Pesugihan di Eyang Jati dan Eyang Aji Singo Lodro

Beragam cara dilakukan banyak orang untuk menjadi kaya. Sebagian memilih jalan normal dengan bekerja lebih giat dan berusaha lebih keras, sementara sebagian lain memilih mencoba mencari jalan pintas meskipun tampak tidak masuk akal. Banyak orang beranggapan bahwa dengan pesugihan, kekayaan akan didapat segera tanpa harus bekerja membanting tulang.

Salah satu ritual pesugihan yang sangat terkenal di wilayah Kabupaten Madiun adalah ritual pesugihan di kuburan keramat. Lokasinya terletak di Rt 14 Rw V Dusun Karang Lo, Desa Buduran, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun.

Untuk bisa mencapai kedua punden angker di kuburan keramat itu tidaklah sulit. Apalagi bagi penumpang bus jurusan Surabaya-Madiun maupun sebaliknya. Bagi penumpang bus yang ingin nyambangi kuburan itu, cukup menyampaikan kepada kondektur atau kepada sopir dan kernet bus, turun di kuburan Karang Lo.

Sedang bagi peziarah yang menggunakan kendaraan pribadi, sesampainya di Pasar Caruban atau sekitar Gedung DPRD Kabupaten Madiun, cukup bertanya lokasi tersebut kepada warga sekitar. Pasti akan di tunjukkan. Sebab, kuburan Karang Lo tidaklah asing bagi warga setempat.

Di dalam kuburan tersebut tampak tumbuh berbagai pohon besar dan di perkirakan berusia ratusan tahun. Sisi lain juga terdapat dua punden angker yakni, pohon jati dan pohon beringin yang sangat besar ukurannya. Punden itu dikenal dengan sebutan Eyang Jati dan Eyang Aji Singo Lodro.

“Di punden pohon jati itu diyakini warga bersemayam roh Eyang Aji Singo Lodro dan di punden pohon beringin bersemayam roh Eyang Jati. kedua punden itu, satu sama lainnya saling berkaitan,” kata Totok Mujianto alias Mbah Cemeng (35) juru kunci kuburan Karang Lo.

Menurut cerita dan pengalaman goib selama ini, punden itu juga dijaga oleh hewan makhluk halus yaitu penjaga punden Eyang Jati berwujud ular besar dan di punden Eyang Aji Singo Lodro di jaga macan dan singa. Sedang hewan peliharaan yang disuruh mengantar pesugihan dikenal dengan nama Jaran Sembrani.

Ada pun sosok roh Eyang Aji Singo Lodro digambarkan sebagai sosok yang mirip dengan sosok Pangeran Diponegoro berpakaian jubah serba hitam. Sedang Eyang Jati digambarkan sebagai sosok seram dengan tubuh tinggi besar, berjenggot dan mengenakan pakaian serba putih.

“Situs tersebut merupakan salah satu tempat bersejarah dan banyak dikunjungi warga biasa hingga pejabat. Mulai lurah, camat dan pejabat lain. Bahkan, jika jelang pemilihan bupati dan wakil bupati dan para calon bupati,” ungkap juru kunci yang malang melintang di dunia goib ini.

Selain untuk berziarah, terangnya, konon juga untuk meminta bantuan Eyang Jati dan Eyang Aji Singo Lodro mendapatkan wahyu, mulai dari naik pangkat dan derajat hingga permintaan yang berbentuk tunai baik itu emas berlian maupun uang.

“Yang datang kesini kebanyakan dari luar Jawa seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Jambi, Palembang, Malang, Purbalingga Jawa Tengah dan daerah lain. Di buku tamu saya banyak yang dari luar daerah,” tutur Totok.

Sedangkan, bagi datang guna melakukan pemujaan pesugihan dan itu harus dilakukan pada Selasa Kliwon, Kemis Legi dan Jum’at Kliwon tengah malam. Mereka wajib melakukan semedi dan memberikan sesajen berupa kembang telon, kembang boreh, kembang setaman, pisang emas, pisang susu, pisang rojo temen, cok bakal dan ayam kampung berbulu putih mulus.

“Kedatangan pertama peziarah yang minta pesugihan belum tentu diterima. Biasanya, setelah kedatangan pertama, peziarah pulang dengan tangan hampa. Barulah seminggu kemudian kami diberi wangsit untuk mendatangi peziarah kerumahnya dan menanyakan, apakah pikirannya sudah pas atau belum,” katanya.

Jika pikiran peziarah dirasa sudah pas, berikutnya mereka diminta datang lagi melakukan ritual dengan membawa sesajen. Untuk bisa mengetahui kabul dan tidaknya permintaan pesugihan akan dihitung selama empat puluh hari setelah acara ritual.

“Selama empat puluh hari setelah pemujaan Eyang Jati dan Eyang Aji Singo Lodro akan mendatangi rumah peziarah untuk menanyakan maksud dan tujuannya. Setelah itu, jika peziarah datang lagi ke kuburan itu dengan membawa sesajen lengkap, pertanda permintaan dikabulkan,” ujarnya.

Meski demikian ada konskwensi yang harus ditanggung. Apabila permintaan kekayaan dikabulkan dan ingkar janji dan tidak melakukan selamatan, dapat dipastikan peziarah akan terkena sanksi.

“Kalau ingkar janji, pasti akan ditagih. Mereka akan didatangi ular besar dan macan. Kalau sampai tiga kali peringatan masih juga diingkari, peziarah akan kena bebendu bentuknya bisa sakit, seret sandang pangan hingga yang paling fatal, yaitu menemui ajal. Tapi, sejauh ini belum ada kejadian seperti itu,” tandasnya seraya mengingatkan agar manusia tetap percaya pada Tuhan YME. (jur)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: