//
you're reading...
Uncategorized

Dana PNPM Rp. 600 Juta Macet

Pilarrakyat-Madiun, Dana Simpan Pinjam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) di Kecamatan Karee, Kabupaten Madiun macet. Tidak tanggung-tanggung, jumlah kemacetan dana itu diperkirakan mencapai Rp. 600 juta lebih.

Informasi diperoleh, dana ratusan juta itu macet sejak tahun 2010 lalu ditangan Hartini tak lain pengurus fasilitator kecamatan dan ditangan Isnu mantan pengurus fasilitator kecamatan. Rinciannya, dana macet ditangan Hartini sekitar Rp. 530 juta dan tangan Isnu sekitar Rp. 47 juta.

Dikonfirmasi wartawan terkait persoalan itu, Kepala Bappemas dan Pemdes Kab Madiun Wahyuono Widoyo Edi membenarkan. “Ya yang saya tahu di Karee kondisinya demikian. Hanya di Karee saja. Lainnya tidak ada,” ujarnya, dihubungi Rabu (14/3/12).

Disinggung langkah yang diambil terkait kasus tersebut, Wahyu mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, pihaknya hanya sebatas sebagai Pembina dan pengawas saja.

Sedangkan otoritas pengelolaan, penggunaan dan pengawasan dana, ada di Unit Pengelola Kegiatan (UPK) kecamatan. Sehingga, apabila terjadi persoalan, maka yang berwenang menyelesaikan adalah UPK setempat.

Sebab itu, Wahyu mendesak, ketika persoalan ini sudah mencuat ke permukaan, semua pihak yang terkait dengan macetnya dana tersebut harus bertanggungjawab menyelesaikan. “Dana harus kembali dan masalah harus diselesaikan. Bagaimana caranya, ya terserah. Yang penting sesuai tahapan,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Fasilitator Kabupaten PNPM Kab Madiun Prawoto tidak menampik adanya kemacetan dana simpan pinjam tersebut. Hanya saja, kata dia, sekarang ini masalah itu sudah tertangani. “Masalah sudah tertangani mendasar kesepakatan masyarakat,” ujarnya melalui pesan singkat.

Sayangnya, Prawoto enggan menjelaskan secara rinci penyebab kemacetan dan langkah konkrit yang diambilnya itu.

Sementara itu, Iin Fasilitator PNPM Kecamatan Karee ketika dikonfirmasi mengaku, untuk menyelesaikan persoalan itu, pihaknya Rabu (14/3) kemarin telah menggelar Musyawarah Antar Desa Khusus.

“Solusinya sudah ada kesepakatan melalui MAD khusus. Untuk Pak Wisnu mantan FK sanggup melunasi pertanggal 25 Maret ini. Dan yang harus dilunasi sebesar Rp. 47 juta. Sedang Bu Hartini sanggup melunasi selama 10 bulan. Setiap bulan mengangsur sekitar Rp. 53 juta,” ujarnya. Kendati macet, namun Iin mengaku yakin bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. “Semoga saja semuanya bisa terselesaikan,” harapnya.

Hingga berita ini ditulis baik Hartini maupun Isnu belum berhasil dikonfirmasi. Sedang terkait ratusan juta rupiah dana macet, Hartini hanya menjaminkan 1 unit sepeda motor jenis Smash, 1 unit mobil jenis Elsa dan sebuah sertifikat atas nama Tentrem yang secara hukum keabsahannya layak dipertanyakan. Selain itu, nilai agunan tidak sebanding dengan kredit yang macet. (re/yu)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: