//
you're reading...
Uncategorized

Proyek Irigasi Di Dishutbun Madiun Sarat Penyimpangan

Pilarrakyat-Madiun, Proyek saluran irigasi dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur senilai Rp. 5 miliar dikelola Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Madiun mulai tercium aroma tidak sedap, karena diduga sarat penyimpangan.

Sesuai hasil temuan Komisi D DPRD Kabupaten Madiun, hasil proyek terkesan amburadul dan bangunan paket jalan produksi disinyalir tidak sesuai Rencana Anggaran Belanja (RAB).

“Kami nggak yakin jalan ini di wales. Buktinya, batunya kocak semua. Kami kecewa, karena apa yang dikatakan pelaksana dan pengawas tidak sesuai kenyataan dilapangan. Sangat jelek sekali pekerjaannya,” ungkap Agus Setyo Budi anggota Komisi D, saat sidak di lokasi proyek jalan produksi di Desa Batok, Kecamatan Gemarang, Kab Madiun Senen (12/03/12).

Menurutnya, disela-sela batu mestinya juga diberi pasir supaya tatanan lebih rapat dan padat. “Tapi pekerjaan yang ini, tidak ada pasirnya. Belum lagi bereman jalan juga tidak ada. Pokoknya pekerjaan amburadul sekali,” ujarnya.

Senada diungkapkan oleh Eko Yuli Utomo. Pria yang akrab di panggil Pego ini mengatakan, jika pekerjaan jalan produksi sepanjang 800 meter di Desa Batok  melibatkan CV.  Cipta Mandiri menelan anggaran Rp. 94 juta ini, dikerjakan tidak sesuai spesifikasi.

“Lihat saja. Penataan batunya acak-acakan. Batu sama sekali nggak ditata. Pasir nggak ada. Padahal kalau mengacu RAB, ukuran batunya 15/20. Tapi kalau yang ini khan nggak karua-karuan. Kalian lihat sendiri khan,” ujarnya sambil menunjuk tatanan batu yang morat-marit.

Parahnya lagi, mengetahui kondisi proyek amburadul, pihak pengawas malah terkesan tutup mata. “Ini aneh. Fungsi pengawasan kok malah tidak jalan,” katanya.

Sebab itu, Komisi D berjanji akan segera memanggil pengawas, pelaksana dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab Madiun untuk dimintai keterangan. “Minggu ini mereka akan kami panggil untuk dimintai keterangannya terkait dengan proyek ini,” tandas Pego.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Madiun Basito justru lempar tanggungjawab kepada tim perencana, pengawas dan pelaksana. Sebab, pihaknya sudah memberikan arahan dan pengarahan kepada pengawas dan pelaksana.  “Tim perencana dan pengawas serta pelaksana harus bertanggunjwab. Karena semua kegiatan dia yang merencanakan,” tegasnya.

Sisi lain, Basito juga mengaku kecewa dengan fungsi pengawas yang dinilainya lemah. Sebanyak 3 paket pekerjaan jalan produksi dan 47 paket pekerjaan saluran irigasi perkebunan bantuan khusus Pemprop Jatim senilai Rp. 5 miliar hingga saat ini belum ada yang rampung. “Padahal, P1-nya tanggal 15 Maret ini. Kalau nanti sampai ada kerugian, ya akan beri sanksi. Semua khan sudah diatur dalam kontrak,” tegasnya. (re)

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: