//
you're reading...
Uncategorized

Antara Definisi Situasi Dan Prediksi Intelijen

William I Thomas, sosiologi abad silam, menyebutkan prilaku manusia banyak dipergunakan definisi situasi. “ Jika manusia mendefinisikan sesuatu sebagai hal nyata, maka konsekuensinya menjadi nyata.” Menurut Thomas, manusia tidak hanya merespon gambaran obyektif suatu situasi, tetapi juga terhadap makna yang melekat pada suatu situasi tersebut. Dengan kata lain, prilaku seseorang kerap ditentukan oleh bagaimana ia memahami situasi yang dihadapinya.

Seseorang bisa saja mendefinisasikan dukun santet sebagai aktivitas klenik yang bertentangan dengan ajaran agama, misalnya. Tetapi, jika makna aktivitas klenik tersebut disimpulkan sebagai perbuatan jahat yang membahayakan keselamatan jiwa orang lain, bukan mustahil respon yang muncul berupa aksi pembantaian dukun santet.

Definisi situasi berikut norma norma prilaku sudah ada sebelum seseorang lahir ditengah kelompoknya. Namu perkembangan nalar memungkinkan manusia memahami situasi yang dihadapinya berbeda dengan rujukan norma norma sosial. WI Thomas menyebutnya sebagai definisi spontan dan analisa situasional.

Akan tetapi, bagi joseph goebbels, mentri propaganda dan pencerahan nasional jerman dimasa berkuasanya Hitler, definisi situasi dapat dibentuk dan digunakan untuk mengendalikan masa. Contoh sederhana, suatu kebohongan akan diterima sebagai kebenaran jika terus menerus ditiupkan dalam kesadaran masyarakat.

SETELAH Perang dunia II berakhir, jenis propaganda duplikat definisi situasi itu dikembangkan oleh badan intelijen negara raksasa dalam berbagai operasi rahasia, CIA membuktikan keampuhannya melahirkan syarat syarat bagi suatu kudeta.
Salah satu korbannya, presiden Vietnam selatan Ngu Dinh Diem, CIA menyuap paranormal terkenal di saigon agar membuat ramalan akan terjadi kekacauan didalam negeri pada tahun 1963, yang di ikuti tamatnya kekuasaan presiden Diem. Ramalan ini disebar luaskan dalam bentuk poster dan selebaran. Pengaruhnya sangat besar karena kuatnya kepercayaan masyarakat pada mistik.

CIA juga mencetak uang palsu sebanyak banyaknya hinga inflasi meroket, pompa bensi ikut disabot dengan memasukkan bahan kimia yang merusak mesin kendaraan. Akibatnya, pemilik kendaraan murka dan melakukan aksi perusakan pompa bensi dan aset pemerintah.

Kekacauan mulai merebak di ibu kota Saigon setelah CIA mendanai sejumlah organisasi massa berunjuk rasa, menuntut mundurnya presiden Diem. Serikat buruh menyerukan pemogokan. Sementara kelompok kelompok preman dan bjingan disuap melakukan aksi kekeransan dijalanan.

Memburuknya kondisi keamanan dan perekonomian secara dratis menyebabkan rakyat semakin percaya pada ramalan akan jatuhnya presiden Diem pada tahun itu. Lantas ketika militer melancarkan kudeta, pristiwa ini merupakan antiklimaks. Rakyat melihatnya sebagai hal selayaknya untuk mengatasi kekacauan dan kebobrokan pemerintah.

Pola yang mirip terjadi di INDONESIA tahun 1965. tahapannya sangat sistem matis, diawali dengan mencangkokan isu memburuknya kesehatan Bung karno. Tidak lama kemudian media massa memberitakan tibanya tim dokter RRC.
Tidak ada yang tahu secara pasti apa hasil pemeriksaan tim dokter tersebut. Namun, di luar tembok istana beredar isu, tim dokter tersebut sudah kembali kenegaranya setelah memeriksa kesehatan Bung Karno. Mereka angkat tangan akibat kronisnya keadaan ginjal Bung Karno. Diperkirakan usia proklamator tidak akan lama lagi.

Keadaan ini melahirkan berbagai spekulasi ditengah perekonomian yang nyaris ambruk dan inflasi meroket hingga 600 persen. Dimana mana masyarakat mulai membicarakan siapa calon pengganti presiden Bung Karno.

Klimaksnya peristiwa 30 september 1965. Beberapa perwira yang terprovokasi menculik dan mengeksekusi enam jendral angkatan dara. Kekuasaan Bung Karno benar benar tamat. Tetapi, bukan karena penyakit yang merengut nyawanya. ORDE BARU dengan jajaran polisi rahasianya menggemari propaganda ini. Contohnya, peran TNI sebagai pejuang dan stabilisator Indonesia. Ini melahirkan kesadaran kolektif, bahwa pemimpin nasional harus dari kalangan militer agar Indonesia aman dan stabil.

Lantas ketika peran TNI dipinggirkan dari pentas politik dan pemerintahan, kerusuhan dan konflik komunal ( Masyarakat ) marak disana sini. Belum lagi virus korupsi dan premanisme yang menjalar dijajaran birokrasi. Keadaan ini memperkuat definisi ( arti sesungguhnya ) situasi peran TNI dan dukungan terhadap pencalonan Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pemilu presiden tahun lalu.

Kesadaran kolektif ( secara bersama sama ) tidak mudah dihilangkan walaupun realitas berubah. Bahaya laten komunisme, misalnya, sampai sekarang diyakini demikian. Tidak peduli Uni Soviet sudah bubar 14 tahun silam dan RRC memilih jalan kapitalisme ( Faham pada kemasyarakatan dengan penguasaan alat alat produksi perorangan ).

Satu lagi definisi situasi sisa Orde Baru. Yang kerap di munculkan menjelang pemilu adalah bahaya terjadinya kerusuhan oleh pengacau keamanan. Orde baru melangsirnya untuk menimbulkan ketakutan dan membenarkan tindakan perpresif terhadap orang orang kritis terhadap pemilu. Maka tidak heran dalam setiap pemilu banyak “ pengacau keamanan “ditangkap.

Menjelang pemilu 1999, bahaya kerusuhan itu berulang kali di sampaikan oleh pejabat tinggi TNI dan para panglima militer di daerah. Tetapi, pemilu ternyata berlangsung aman dan tertib. Pengamat internasional menyebut, inilah pemilu paling demokratis setelah pemilu 1955.

Menjelang pemilu tahun lalu, “ bahaya kerusuhan “ muncul lagi. Namun, agar tampak lebih berbobot kali ini dikemas dalam “ analisi dan perkiraan intelijen “. Panglima TNI, Kepala badan Intelijen Negara ( BIN ), dan kepala Porli menyebut secara spesifik jenis kekerasan yang di prediksi akan muncul. Sementara Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional mengindentifikasikan belasan titik rawan yang berpotensi pecahnya kerusuhan menjelang pemilu.

Prediksi tersebut ternyata jauh meleset. Pemilu lagi lagi berjalan aman, tertib dan demokratis. Namun, menyongsong pemilihan kepala daerah pada juni mendatang bermunculan lagi prediksi yang mirip. Bahkan, meluas kekhawatiran bentroknya antar pendukung kandidat.

Masalahnya, jika tidak dilakukan reevaluasi metodologi intelijen sebelumnya. Bukan mustahil prediksi tersebut mirip yang di kemukakan William I Thomas, “Jika manusia mendefinisikan sesuatu sebagai hal nyata, maka konsekuensinya menjadi nyata”.

Dalam hal ini bahaya kerusuhan bukan mustahil menjadi nyata karena melahirkan dilema keamanan. Suatu lingkaran kecurigaan yang mudah disulut menjadi bentrokkan komunal. Forcasting intelijen merupakan kebutuhan, namun bukan definisi situasi. Diambil dari Kompas, Sabtu 16 April 2005.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: