//
you're reading...
Uncategorized

Aksi Solidaritas Bima Muncul di Berbagai Kota

Mereka umumnya mengecam polisi dan meminta Kapolda NTB dicopot dari jabatannya

Mereka umumnya mengecam polisi dan meminta Kapolda NTB dicopot dari jabatannya


Pilarrakyat, Aksi solidaritas menyusul tewasnya dua aktivis akibat kekerasan polisi di Bima pada 24 Desember 2011 memunculkan gerakan solidaritas di berbagai kota. Hari ini, muncul demonstrasi di Mataram, Surabaya dan Tuban.

Di Mataram, sekitar 300 orang dari berbagai organisasi menggelar demonstrasi dengan cara menutup ruas jalan di perempatan Bank Indonesia, Mataram. Dalam aksi yang dipimpin Ali Usman Alkhairi, Ketua Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB, menuntut agar Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat Brigadir Jenderal Arief Wachyunadi mundur dari jabatannya.

Ratusan mahasiswa tersebut menggelar long march dari Universtias Mataram dan berkumpul di Bundaran Bank Indonesia. Mereka menggelar spanduk dan poster bertuliskan kecaman terhadap tindakan represif yang dilakukan aparat kepolisian saat membubarkan masa di Pelabuhan Sape,Bima.

Dalam orasinya, Ali mengatakan tindakan represif aparat kepolisian di Sape Bima sebagai tindakan tak berperikemanusiaan. Pendudukan Pelabuhan Sape Bima, oleh warga Kecamatan Lambu menurutnya adalah bentuk kepedulian terhadap kepentingan umum.

“Bagaimana mungkin aparat penegak hukum malah menembaki rakyatnya dengan membabi buta. Itu bentuk korporasi yang menghancurkan rakyat Indonesia,” kata Ali Alhairi di Mataram, Senin 26 Desember 2011.

Tidak hanya itu, kekerasan terhadap warga Lambu yang menuntut penghentian tambang emas di area seluas 24.000 hektar menurut Ali merupakan tuntutan yang wajar. Terlebih kawasan itu merupakan kawasan sumber air dan menjadi harapan warga Lambu.

Ali juga mengaku curiga dengan data yang dirilis polisi terkait jumlah korban tewas dan luka-luka dalam insiden berdarah Sabtu pagi itu. Malah dia menyebut lebih dari lima orang tewas dan jenazahnya dimakamkan oleh pihak keluarga. “Informasi yang kami peroleh korban tewas lebih dari dua orang. Korban tewas langsung dikebumikan oleh keluarganya. Itu merupakan adat ketimuran yang dilakukan masyarakat,” ujarnya.

Surabaya dan Tuban

Di Surabaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur menggelar aksi demo di depan Mapolda Jatim Jalan A Yani Surabaya. Puluhan massa dengan membentangkan spanduk berisi kecaman, di antaranya mengecam Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang disebut bukan pemimpin rakyat.

Selanjutnya, massa IMM menyebut polisi bukan pelindung rakyat, tetapi juga centeng pemodal. Terbukti, lanjut orator itu, gampang mengobral tembakan dan rakyat menjadi korban. Berharap, pemerintah tegas menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi dengan pendekatan humanis, IMM membeber sejumlah peristiwa kekejaman polisi. Mulai ‘Pembantaian Mesuji’ di Lampung, berlanjut tragedi penembakan warga dan mahasiswa Front Rakyat Anti Tambang di Pelabuhan Sape, Bima, NTB.

Kemudian, DPD IMM Jatim juga menyampaikan sikap, diantaranya mengutuk keras aksi penembakan oleh polisi terhadap warga sipil di Bima, NTB. SBY harus bertanggung jawab dengan peristiwa tersebut. Kapolri, Kapolda NTB, Kapolres Bima dan aparat yang terlibat ditindak tegas dan dipecat.

IMM mendesak moratorium dan pencabutan izin seluruh penambangan, emas, batu bara dan lainnya yang merusak lingkungan dan tidak menguntungkan rakyat. Termasuk, usut keterlibatan Gubernur NTB dan Bupati Bima terkait keluarnya izin tambang di daerah tersebut.

Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sedikitnya belasan mahasiswa yang terdiri dari Ikatan Mahasiswa Mohammadiyah (IMM) Cabang Tuban menggeruduk Markas Polres Tuban. Dalam aksinya, mereka telah memblokade jalan yang ada di depan Mapolres Tuban sehingga arus lalu lintas sempat macet.

Selama aksi, suasana sempat terjadi aksi saling dorong antara demonstran dengan petugas kepolisian. “Kasus Bima yang terjadi itu karena kecerobohan Polisi. Maka, kami meminta kepada Polisi untuk menuntaskan kasus tersebut,” kata koordinator lapangan aksi, Saiful.

Setelah meninggalkan markas Mapolres Tuban, mereka kembali menggelar aksi lagi di tengah jalan namun akhirnya, mereka langsung membubarkan diri.

Laporan Edy Gustan (Mataram), Tudji Martudji (Surabaya) dan Pambudi Eko (Tuban) . VIVAnews

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: